Model Penelitian Tindakan Kelas


Model Penelitian Tindakan Kelas

Langkah-langkah atau prosedur PTK didasarkan pada model PTK. Selama ini dikenal berbagai model PTK, namun pada dasarnya terdapat empat tahap yang harus dilalui yaitu (1) perencanan (planning), (2) pelaksanaan (acting), (3) pengamatan (observing), dan (4) refleksi (reflecting). Keempat tahap tersebut merupakan satu siklus dan akan dapat berlanjut kepada siklus kedua, siklus ketiga dan seterusnya sesuai dengan apa yang diinginkan dalam penelitian.

Banyak cara penggambaran siklus dalam PTK ini. Umumnya siklus yang berkelanjutan dalam peneltian tindakan digambarkan sebagai suatu spiral.

Perbedaan model ini dengan model yang pertama adalah bahwa tahap pelaksanaan dan pengamatan dilakukan secara bersamaan. Kedua tahap tersebut dilaksanakan secara bersamaan karena idealnya pelaksanaan tindakan kelas dilakukan oleh seorang guru atau dosen, sedangkan dosen lainnya bertindak sebagai observer yang pada saat itu pula mengamati perubahan-perubahan yang terjadi selama tindakan pada kelas tersebut. Akan tetapi bukan berarti dosen yang melakukan tindakan tidak boleh melakukan observasi sendiri terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada kelas.

Contoh ketiga disampaikan oleh Riel (2007) melalui Center for Collaborative Action Research Pepperdine University, dengan sedikit perbedaan penamaan pada langkah ketiga yaitu bukan observasi, melainkan collect and analyze evidence (pengumpulan dan analisis data). Meskipun terdapat perbedaan penamaan pada langkah ke tiga, namun sebenarnya kegiatan yang dilakukan pada tahap ini tidak jauh berbeda dengan kedua model sebelumnya, karena dalam tahap observasi ini, inti kegiatan yang dilakukan adalah pengumpulan dan analisis data.

1. Perencanaan (planning)

Pada tahap pertama ini peneliti harus menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, di mana, oleh siapa dan bagaimana tindakan dilakukan. Idealnya kegiatan dilakukan secara berpasangan untuk bekerja secara kolaboratif. Pihak pertama melakukan tindakan dan pikah kedua melakukan observasi terhadap tindakan, sehingga subyektifitas dapat dikurangi dan observasi menjadi lebih cermat. Lain halnya jika pelaksana tindakan dan observer adalah orang yang sama, meskipun hal ini juga bisa dilakukan juga dalam PTK.

Kegiatan-kegiatan pada tahap perencanaan adalah penentuan titik atau fokus peristiwa yang perlu mendapatkan perhatian khusus untuk diamati, kemudian pembuatan instrumen observasi untuk merekam fakta selama berlangsungnya tindakan. Jika pelaksana tindakan dan observer adalah orang yang berbeda, maka harus dibuat kesepakatan terlebih dahulu antara pihak pelaksana dan pihak peneliti.

2. Pelaksanaan (acting)

Tahap ini adalah waktu untuk melaksanakan isi perencanaan yaitu melaksanakan tindakan di kelas. Pihak guru pelaksana tindakan harus mengingat betul dan berusaha agar mengikuti apa yang sudah dirumuskan dalam tahap perencanaan, juga harus berlaku wajar, tidak dibuat-buat. Kesesuaian antara planning dan acting akan diperhatikan secara seksama dalam refleksi.

Saat menyusun laporan penelitian, peneliti tidak lagi melaporkan perencanaan, melainkan langsung pada pelaksanaan. Oleh sebab itu bentuk dan isi laporan harus sudah dapat menggambarkan semua kegiatan yang dilakukan, mulai dari persiapan sampai dengan penyelesaian.

3. Pengamatan (observing)

Sesungguhnya tahap pengamatan dilaksanakan bersamaan dengan tahap pelaksanaan. Pada saat guru pertama melaksanakan tindakan di kelas, guru kedua melaksanakan observasi terhadap hal-hal yang disepakati untuk diamati selama tindakan berlangsung. Jika pelaksana dan observer adalah guru yang sama, tentu pada saat melaksanakan tindakan ia akan memusatkan perhatiannya pada tindakan, sehingga tidak sempat menganalisis peristiwa yang sedang terjadi. Oleh karena itu peneliti harus melakukan pengamatan balik terhadap apa yang terjadi ketika tindakan berlangsung. Sambil melakukan pengamatan balik ini, guru pelaksana mencatat sedikit demi sedikit apa yang terjadi agar memperoleh data yang akurat untuk perbaikan siklus berikutnya.

4. Refleksi (reflecting)

Pada tahap ini peneliti mengemukakan kembali apa yang telah dilakukan. Kegiatan refleksi ini sangat tepat dilakukan ketika guru pelaksana sudah melakukan tindakan, kemudian berhadapan dengan peneliti untuk mendiskusikan implementasi rancangan tindakan. Dalam hal ini guru pelaksana sedang merefleksikan (memantulkan) pengalamannya kepada peneliti yang baru saja mengamati kegiatannya dalam tindakan.

Inti dari penelitian tindakan adalah ketika guru pelaksana tindakan siap mengatakan kepada observer (guru peneliti) tentang hal-hal yang dirasakan telah berjalan baik dan hal-hal dirasakan belum berjalan baik. Dapat dikatakan bahwa guru pelaksana sedang melakukan self evaluation (evaluasi diri). Jika guru pelaksana dan guru observer adalah orang yang sama, maka ia harus melakukan refleksi kepada dirinya sendiri. Dengan kata lain, guru tersebut melihat dirinya kembali melakukan “dialog” untuk menemukan hal-hal yang dirasakan sudah memuaskan karena sudah sesuai dengan rancangan. Selain itu harus mengenali hal-hal yang masih perlu perbaikan secara cermat.

Jika PTK dilakukan dalam beberapa siklus, maka dalam tahap refleksi terakhir, peneliti menyampaikan rencana yang disarankan kepada peneliti lain apabila ia menghentikan kegiatannya, atau kepada diri sendiri apabila peneliti akan melanjutkannya pada kesempatan yang lain.

untuk mendapatkan kumpulan PTK silahkan download File Lengkap PTK

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s