Daily Archives: Oktober 28, 2011

MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA DAN MENDENGAR ANAK KELOMPOK B TK MELALUI KEGIATAN MENCERITAKAN PENGALAMAN SEDERHANA ( PTK 22 )


MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA DAN MENDENGAR ANAK KELOMPOK B TK MELALUI KEGIATAN MENCERITAKAN PENGALAMAN SEDERHANA DENGAN URUT MENGGUNAKAN METODE BERCAKAP-CAKAP”. ( PTK 22 )

Tujuan Pendidikan Taman Kanak-Kanak menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 pasal 28 ayat 3 adalah membantu anak didik dalam mengembangkan berbagai potensi baik secara psikis maupun fisik yang meliputi pengembangan moral, nilai, sosial, emosional, kognitif, bahasa, motorik, kemandirian dan seni untuk dipersiapkan memasuki Pendidikan dasar.

Tujuan program kegiatan belajar TK adalah membantu meletakkan dasar ke arah perkembangan sikap, pengetahuan keterampilan, dan daya cipta anak didik untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya. Sedangkan ruang lingkup program kegiatan belajar TK meliputi pembentukan perilaku melalui pembiasaan dalam pengembangan moral Pancasila, agama, disiplin, perasaan/emosi, dan kemampuan bermasyarakat, serta pengembangan kemampuan dasar melalui kegiatan yang dipersiapkan oleh guru meliputi pengembangan kemampuan berbahasa, daya pikir, daya cipta, keterampilan, dan jasmani.

Pada anak usia TK (4-6 tahun), kemampuan berbahasa yang paling umum dan efektif dilakukan adalah kemampuan berbicara. Hal ini selaras dengan karakteristik umum kemampuan bahasa anak pada usia tersebut. Karakteristik ini meliputi kemampuan anak untuk dapat berbicara dengan baik, melaksanakan tiga perintah lisan secara berurutan dengan benar, mendengarkan dan menceritakan kembali cerita sederhana dengan urutan yang mudah dipahami, menyebutkan nama, jenis kelamin dan umurnya, menggunakan kata sambung seperti: dan, karena, tetapi; menggunakan kata tanya seperti bagaimana, apa, mengapa, kapan; membandingkan dua hal; memahami konsep timbal balik; menyusun kalimat; mengucapkan lebih dari tiga kalimat, dan mengenal tulisan sederhana.

DOWNLOAD FILE LENGKAP PTK

PENGGUNAAN CTL UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA PADA SISWA KELAS V SEMESTER II DI ( PTK 21 )


Reformasi pembelajaran merupakan perubahan cara guru dalam memilih stra-tegi dan metode pembelajaran yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa. Pelak-sanaan pembelajaran selama ini lebih banyak dilakukan di kelas, akibatnya siswa tidak bersentuhan dengan dunia nyata atau lingkungan. Guru sangat fasih berbicara tentang konsep tetapi tidak mengaitkan langsung dengan kehidupan sehari-hari maupun lingkungan belajar siswa. Guru kurang menyadari bahwa pemahaman dari konsep yang diberikan memerlukan gambaran-gambaran bagi siswa yang sebenarnya ada di sekeliling siswa atau pengalaman dari siswa itu sendiri. Guru kurang menggali potensi siswa untuk menenangkan dan mengorganisasikan perolehannya serta pengalamannya dalam pembelajaran.

Penelitian ini berdasarkan permasalahan: (1) Apakah dengan menggunakan Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat meningkatkan keaktifan belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia pada siswa kelas V? (2) Apakah dengan menggunakan Contextual Teaching and Learning pada siswa kelas V?

Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah (1) ingin mengetahui penggunaan Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat meningkatkan keaktifan belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia pada siswa kelas V. (2) Ingin mengetahui penggunaan Contextual Teaching and Learning siswa kelas V.

Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (Classroom Actions Research). Penelitian ini menggunakan beberapa tahap yaitu perencanaan, pengamatan (observasi), refleksi. Subyek siswa kelas V semester II SDN Pandanrejo 01 Kecamatan Pagak Kabupaten Malang tahun pelajaran 2005/2006.

DOWNLOAD FILE LENGKAP PTK

PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR MASALAH SOSIAL UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN IPS SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR NEGERI ( PTK 20)


Dalam pendidikan suatu bangsa, pendidikan merupakan salah satu kebutuhan yang sangat penting dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Pendidikan sebagai tolak ukur kemajuan bangsa berperan untuk membentuk individu yang beriman, bermoral dan berakhlak mulia serta berkualitas. Dalam hal ini peran guru sangat menentukan tercapainya tujuan pendidikan tersebut.

Menurut pendapat Abis Syamsudin membedakan peranan tugas dan tanggung jawab guru sebagai pendidik (educator) dan pengajar (teacher). Dalam konsep pendidikan mencakup seluruh proses hidup dan segenap bentuk interaksi individu dengan lingkungan baik secara informal dan non formal dalam rangka menunjukkan dirinya sesuai dengan tahapan tugas perkembangannya secara optimal sehingga ia tercipta suatu tahap kedewasaan. Dalam hal ini guru berperan sebagai konservator (pemelihara), transmitor (penerus), transformator (penerjemah) dan organisator (penyelenggara).

Dalam konteks pendidikan tidak terlepas dari kegiatan belajar. Belajar menurut pendapat ahli pendidikan modern adalah bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku baru, misalnya dari tidak tahu melalui pengalaman dan latihan. Latihan timbulnya pengertian baru, serta timbul dan berkembangnya sifat-sifat sosial, susila dan emosional dalam proses belajar juga dituntut suatu ketekunan, ketelitian, kesabaran, kerajinan, kekreatifan, demi tercapainya suatu keberhasilan.

Pembelajaran yang berhasil ditunjukkan oleh penguasaan materi pelajaran dan tingkat penguasaan materi pelajaran ditentukan oleh penilai. Penulis sebagai guru kelas IV merasa belum puas dengan nilai yang diperoleh siswa terutama pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Dari pengalaman yang dialami, maka penulis mengadakan penelitian melalui refleksi diri (self reflective enquiry) yang kemudian dilanjutkan dengan adanya tindakan (action) yang dilakukan berulang-ulang dalam rangka mencapai perbaikan yang diharapkan.

Sejak awal semester penulis mengamati dan mencatat adanya kurang perhatian siswa terhadap mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan seringkali penulis mendapatkan siswa yang memperoleh nilai rata-rata kelas kurang dari standar criteria ketuntasan minimal yaitu 70. Hal ini menunjukkan rendahnya penguasaan materi pengetahuan sosial.

DOWNLOAD FILE LENGKAP PTK

PENGGUNAAN MEDIA MODEL UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN MATEMATIKA SISWA KELAS IV SD TAHUN 2010 ( PTK 019 )


Guru memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas pengajaran yang dilaksanakan. Oleh karena itu guru harus memikirkan dan membuat perencanaan secara seksama dalam meningkatkan kesempatan belajar mengajar bagi siswanya dan memperbaiki kualitas mengajarnya.

Menurut Deci dan Ryan, guru adalah membantu siswa mengubah persepsi yang negative terhadap belajar dan belajar menjadi menyenangkan, karena di dalam proses pembelajaran matematika merupakan pelajaran yang paling penting dan disegani siswa dan tidak heran matematika dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit. Banyak siswa yang memiliki nilai matematika yang rendah di banding dengan pelajaran lain, ini disebabkan oleh rendahnya motivasi belajar siswa dalam pelajaran matematika dan banyak anak yang belum hafal dasar pengerjaan hitung khususnya penjumlahan dan pengurangan.

Karena adanya kendala tersebut dalam mengerjakan matematika pada umumnya memerlukan waktu yang cukup lama dan sering kekurangan waktu. Agar dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, strategi yang dipilih guru dalam belajar mengajar hendaknya mampu meningkatkan motivasi siswa dalam belajar.

Menurut De Cecco dan Grawford (1974) ada 4 peranan guru untuk memberikan dan meningkatkan motivasi siswa :

1. Membangkitkan semangat siswa

2. Memberikan harapan yang realitas

3. Memberikan insentif berupa penghargaan, pujian, hadiah atau kata-kata yang manis.

4. Memberi penghargaan.

Dalam proses pembelajaran matematika masih banyak dijumpai guru yang tidak pernah menerapkan pemilihan media model untuk melatih dasar pengerjaan hitung penjumlahan dan pengurangan dalam pecahan, sehingga banyak dijumpai siswa yang tidak dapat mengoperasionalkan penjumlahan dalam pecahan. Dikarenakan kurangnya contoh konkrit (model) yang diberikan guru dalam latihan-latihan pelajaran matematika.

Kesiapan siswa hanya dapat dicapai berkat adanya usaha belajar dan latihan (Zahara Idris dan Lisna Jamal 1992:7). Kesiapan disini meliputi sejumlah perkembangan intelektual sensorik-motorik, kebutuhan dan berbagai kemampuan serta cita-cita yang menyebabkan seseorang dapat menanggapi sesuatu dari pada yang lain. Penggunaan media model merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan pencapaian kesiapan belajar siswa dalam pembelajaran matematika.

Pengalaman dari penulis dalam melaksanakan proses pembelajaran matematika tidak menggunakan media model pembelajaran kurang berhasil, terbukti dari 14 siswa kelas IV SD Negeri Krajan 04 hanya 4 siswa atau 29% yang mencapai standar KKM (65) dan 10 siswa atau 71% siswa belum mencapai standar nilai KKM. Dari data ini penulis mengadakan perbaikan dengan menggunakan media model agar nilai siswa mengalami perubahan yang lebih baik dan mencapai prestasi. DOWNLOAD FILE LENGKAP PTK

PENINGKATAN KETUNTASAN BELAJAR SISWA KELAS X PADA KOMPETENSI DASAR STRUKTUR ATOM ( PTK 018 )


PENINGKATAN KETUNTASAN BELAJAR SISWA KELAS X PADA KOMPETENSI DASAR STRUKTUR ATOM, SIFAT-SIFAT PERIODIK UNSUR DAN IKATAN KIMIA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD ( PTK 018 )

Pendidikan mempunyai arti yang sangat penting dalam kehidupan kita, baik dalam kehidupan individu, bangsa maupun negara. Oleh karena itu pendidikan harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, sehingga sesuai dengan tujuan. Keberhasilan suatu bangsa terletak pada mutu pendidikan yang dapat meningkatkan kualtias sumber daya manusianya.

Pendidikan pada dasarnya suatu proses untuk membantu manusia dalam mengembangkan dirinya, sehingga mampu menghadapi segala perubahan dan permasalahan dengan sikap terbuka serta pendekatan-pendekatan yang kreatif tanpa harus kehilangan identitas dirinya. Sekolah merupakan bagian dari sistem pendidikan formal yang mempunyai aturan-aturan jelas atau lebih dikenal dengan GBPP (Garis-garis Besar Program Pengajaran) sebagai acuan proses pembelajaran dan guru sebagai fasilisator yang berperan dalam keberhasilan seorang siswa, sehingga guru harus tepat dalam memilih metode pembelajaran yang akan digunakan.

Untuk mencapai tujuan tersebut, maka pengajaran kimia harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya sehingga memperoleh hasil yang diharapkan.

Keberhasilan pengajaran kimia ini ditentukan oleh besarnya partisipasi siswa dalam mengikuti pembelajaran, makin aktif siswa mengambil bagian dalam kegiatan pembelajaran, maka makin berhasil kegiatan pembelajaran tersebut. Tanpa aktivitas belajar tidak akan memberikan hasil yang baik.

Pada kenyataannya, guru dalam melakukan kegiatan belajar mengajar di kelas cenderung berlangsung secara konvensional atau menggunakan strategi pembelajaran tradisional. Artinya guru mentransformasi ilmu pengetahuannya dengan menggunakan metode ceramah sehingga pembelajaran berpusat pada guru (Teacher Centered). Padahal menurut Kurikulum 2004, kegiatan belajar mengajar harus berpusat pada siswa yang artinya siswa harus lebih aktif menggali informasi sendiri. Selain itu, kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa pencapaian jumlah siswa yang tuntas belajar di SMA Islam Darut Tauhid Bangil kelax X ternyata masih rendah. Dikatakan rendah karena belum mencapai ketuntasan belajar menurut kurikulum SMU 1994 yaitu memperoleh nilai > 65.

Dalam mempelajari konsep kimia, siswa kurang bisa mengaitkan konsep yang ada ke dalam kehidupan sehari-hari apalagi kimia merupakan ilmu baru yang dipelajari oleh siswa sehingga siswa akan mengalami kesulitan bila siswa dihadapkan kepada bahan pengajaran baru yang menghendaki penalaran intelektual sedangkan ilmu kimia sangat berkaitan dengan kehidupan sehari-hari dan akan lebih mudah dipahami siswa berdasarkan pengalaman yang mereka temui di lingkungan sendiri.

Untuk mengatasi masalah tersebut di atas, perlu diupayakan suatu pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan untuk membuat pembelajaran lebih aktif. Salah satunya adalah dengan menerapkan pendekatan Contextual Teaching dan Leraning (CTL) yang merupakan konsep belajar untuk membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan kehidupan sehari-hari siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan awal siswa dengan penerapan dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Blanhard, 2001). Dengan konsep itu hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Dalam upaya itu, siswa memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing. DOWNLOAD FILE LENGKAP PTK

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS V SD NEGERI MENGGUNAKAN BELAJAR DENGAN TEHNIK JIGSAW ( PTK 17 )


Masalah redahnya motivasi siswa dan rendahnya hasil belajar siswa telah lama menjadi bahan pikiran para guru dan pengawas pembina TK/SD, terutama pada mata pelajaran Matematika. Pada umumnya siswa merasa matematika merupakan pelajaran yang menakutkan dan paling susah, sehinga setiap kegiatan pembelajaran kurang aktif, interaktif antara guru dan siswa cenderung pasif dan hanya menerima apa yang diberikan oleh guru.

Menjadi Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) yang melibatkan guru kelas, permasalahan ini dicoba untuk diteliti melalui penggunaan model pembelajaran kooperatif Tipe Jigsaw. Penelitian ini melalui dua siklus. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dengan menggunakan model kooperatif Tipe Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa bila dibandingkan dengan hasil belajar sebelumnya. Pada Siklus I tingkat motivasi siswa sebesar 34,38 % sedangkan pada siklus II naik menjadi 63,47 %. Pada hasil ulangan harian siklus I 59,39 % sedangkan pada siklus II naik menjadi 85 %.

Sebagian besar siswa menyenangi model pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw ini karena siswa diberi kebebasan dan aktif dalam mengeluarkan pendapatnya sehingga terciptalah hubungan yang baik dengan siswa begitu juga dengan guru. DOWNLOAD FILE LENGKAP PTK

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS V SD MENGGUNAKAN BELAJAR DENGAN TEHNIK JIGSAW ( PTK 16 )


MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS V SD NEGERI 1 LUBUKLINGGAU MENGGUNAKAN BELAJAR DENGAN TEHNIK JIGSAW

Masalah redahnya motivasi siswa dan rendahnya hasil belajar siswa telah lama menjadi bahan pikiran para guru dan pengawas pembina TK/SD, terutama pada mata pelajaran Matematika. Pada umumnya siswa merasa matematika merupakan pelajaran yang menakutkan dan paling susah, sehinga setiap kegiatan pembelajaran kurang aktif, interaktif antara guru dan siswa cenderung pasif dan hanya menerima apa yang diberikan oleh guru.

Menjadi Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) yang melibatkan guru kelas, permasalahan ini dicoba untuk diteliti melalui penggunaan model pembelajaran kooperatif Tipe Jigsaw. Penelitian ini melalui dua siklus. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dengan menggunakan model kooperatif Tipe Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa bila dibandingkan dengan hasil belajar sebelumnya. Pada Siklus I tingkat motivasi siswa sebesar 34,38 % sedangkan pada siklus II naik menjadi 63,47 %. Pada hasil ulangan harian siklus I 59,39 % sedangkan pada siklus II naik menjadi 85 %.

Sebagian besar siswa menyenangi model pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw ini karena siswa diberi kebebasan dan aktif dalam mengeluarkan pendapatnya sehingga terciptalah hubungan yang baik dengan siswa begitu juga dengan guru. DOWNLOAD FILE LENGKAP PTK

PENERAPAN METODE DISCOVERY UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN OPERASI HITUNG PECAHAN BENTUK ALJABAR PADA SISWA KELAS VIII B DI MTSN ( PTK 15 )


Pelajaran matematika umumnya tidak di sukai anak . Ketidak sukaan ini disebabkan oleh dua hal.Pertama oleh anak itu sendiri seperti kurang memiliki pengetaun prasarat, kurang megetaui manfat pelajaran matematika, dan kurangnya motivasi. Yang kedua factor dari guru , yang banyak terjadi adalah dalam pelaksanaan KBM model pembelajaran selalu monoton.

Pengetauan prasarat untuk melanjukan belajar materi selanjutnyapenting sekali. Misalnya dalam belajar operasi hitung pecahan bentuk aljabar.Pada pokok bahasanini siswa harus memiliki pengetahuan prasarat seperti harus sudah menguasai dengan baik pengoperasianbilangan pecahan baik penjumlahan, pengurangan, perkalian, atau pembagian. Selanjutnya siswa juga harus meguasai pula materi bentuk aljabar itu sendiri pemahaman mengenai bentuk aljabar anak lebih banyak mengalami kesulitan , mungkin di sebabkan pada materi ini siswa dihadapkan pada bilangan – bilanganyang muncul bersamaan dengan huruf-huruf (variabel).Sebagaimana halnya dengan terjadi pada siswa kelas VIII B di MTS Negeri Geneng , Sehinga sangat di perlukan model pembelajaran yang cocok pada materi ini dalam pembelajaran ini

Dari latar belakang masalah tersebut, maka penulis mengambil judul “Penerapan Metode Discovery Untuk Meningkatkan Kemampuan Operasi Hitung Pecahan Bentuk Aljabar Pada Siswa Kelas VIII B di MTsN GENENG Tahun Pelajaran 2007/2008 download File Lengkap PTK

UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS SISWA PADA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI KELAS RENDAH PADA TOPIK MENULIS TEGAK BERSAMBUNG ( PTK 014 )


UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS SISWA PADA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI KELAS RENDAH PADA TOPIK MENULIS TEGAK BERSAMBUNG ( PTK 014 )

Penelitian ini berjudul “Upaya Meningkatkan Keterampilan Menulis Siswa Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Di Kelas Rendah Pada Topik Menulis Tegak Bersambung”.

Penelitian beranjak dari permasalahan yang terdapat di MI Tanjungsari 1 yaitu berkurangmampuan guru kelas rendah untuk membelajarkan cara menulis tegak bersambung sehingga membawa dampak negatif terhadap keterampilan menulis tegak bersambung di kelas tinggi yakni anak kelas 3 sampai kelas 6 tidak mampu menulis tulisan tegak bersambung.

Pembelajaran tulisan bersambung ini sangat cocok apabila ada pelatihan yang berkesinambungan bukan hanya di kelas 2 dan di kelas 3 sampai kelas 6 juga harus ada pelatihan agar anak menjadi biasa. Landasan teoritisnya melalui studi pustaka, sedangkan landasan empirisnya penulis langsung terjun ke lapangan.

Hasil penelitian dituangkan dalam pembahasan skripsi ini yang hasilnya dilihat dari hasil pembelajaran tulisan tegak bersambung di kelas II dalam belajar Bahasa Indonesia sehari-hari.

Dari hasil pengalaman di lapangan dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar menulis tegak bersambung di Sekolah Dasar sangatlah download File Lengkap PTK